Jumat, 12 November 2010

Jilbab Bagi Wanita Muslimah


Akhir-akhir ini, perkara hijab atau jilbab banyak dipermasalahkan. Terjadinya polemic antara yang pro dan yang kontra, sampai-sampai ada pihak tertentu yang dengan gegabah menyelewengkan penafsiran ayat-ayat tentangnya.
Taklif (pewajiban) hijab (jilbab) ini, sebenarnya tidak hanya tertuju kepada remaja dan pelajat-pelajar putrid serta mahasiswi-mahasiswi saja. Melainkan  merupakan satu kewajiban umum atas wanita muslimah yang harus mereka laksanakn sejak masa baliq hingga tuanya.
 Jilbab bukanlah sisa peninggalan adat atau kebiasaan wanita arab, sehingga wanita non- arab tidak perlu meniruya. Namun, hijab (jilbab) adalah satu hokum yang tegas dan pasti yang seluruh wanita muslimah diwajibkan Allah untuk mengenakannya.
Melanggar atau tidak mengakuinya berarti mengingkari salah satu hokum Islam yang esensial. (Semoga Allah melindungi kita). Juga akan kita dapati bahwa hijab (jilbab), bukanlah suatu masalah khilafiyah (kontroversial), sehingga wanita muslimah bebas mengenakannya atau tidak.
Perintah Allah mengenai hijab (jilbab), yang terkandung di dalam Al- Qur’an selalu diawali dengan kata-kata wanita yang beriman. Menunjukkan betapa asasinya kedudukan jilbab bagi wanita-wanita muslimah.
Menurut A’la-Maududi dalam bukunya, al-Hijab ia berpendapat. Dasar dari segala ketaatan dan kepatuhan di dalam Islllam adalah iman.
Iman adalah perkara hati yang perujudannya dapat dilihat pada lahir (dhahir) insan. Iman dapat berkurang dan bertambah, karena dia bukan merupakan bagian dari zat (esensi) insan.
“Sesungguhnya Allah telah mengamanatkan iman, dan membagi-ratakannya ke seluruh anggota badan manusia ini. Dan tidak ada satu pun dari organ tubuh ini, yang tidak diamati iman oleh Allah SWT. Barang siapa  menemui Allah dalam keadaan telah menjaga baik seluruh anggota badanya, dengan cara menunaikan apa yang diwajibkan Allah kepadanya.  Berarti telah menemui Allah dengan iman yang sempurna: dan dia termasuk dalam golongan ahli surga.  Sebaliknya, barang siapa yang menghianati amanat Allah ini, dan tidak mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya, maka dia telah menemui Allah dengan iman yang kurang”.
“Kami kisahkan cerita mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”. (QS. 18:13).
Kalau seandainya seluruh iman itu sama dan sederajat, maka tidak akan ada seseorang yang lebih mulia dari yang lain: dan nikmatpun akan dibagikan rata. Seluruh manusia akan sama, dan tidak ada kelebihan satu dari yang lainnya.
Dengan  iman yang sempurna,  maka orang-orang mukmin masuk surga, dengan iman yang lebih, maka orang-orang mukmin mendapatkan derajat yang lebih mulia di sisi Allah. Dan dengan iman yang kurang, maka orang-orang yang lalai itu terjerumus ke dalam api neraka.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar